Minggu, 22 Mei 2011

"Bundaran HI" part 6

Kalo yang lupa part 5 nya kaya apa, coba dibaca dulu di link berikut http://www.facebook.com/note.php?note_id=497893999388. Kalo udah, ini dia lanjutannya…

Aku sibakkan gorden jendela kamarku. Cahaya matahari menelusup masuk. Ada seorang pria berdiri di sana. Ia melambaikan tangan seraya tersenyum. Ah! Aku segera berlari keluar kamar menuju pintu masuk rumah. Dan ketika ku buka pintunya.
“Taraaaaaaaaaam..! Hallo Ney! Apa kabar?”
“Kamu kok bisa ada di sini?”
“Iya, lagi liburan. Kaget banget gitu sih? Seneng kan aku datang? Hahaha”
“Hm,,iya seneng”, jawab ku datar. “Ayo masuk”

Tarra. Iya kembali dari Amerika. Caranya kembali begitu aneh. Mengapa tiba-tiba mengetuk kaca jendela kamarku? Tidakkkah ia tahu, hal ini membuatku berharap Fahrezi yang datang? Ia menyadarkanku, Fahrezi tak mungkin datang. Ia sudah pergi, bahkan tak pernah ada dalam dunia nyata. Ia Andi yang memainkan peran sebagai Bundaran HI-ku.
“Ney, kamu apa kabar?”
“Seperti yang kamu lihat.”
“Masih nunggu dia?”, pasti yang Tarra maksud adalah Fahrezi.
“Hm…” Aku menundukkan wajah ku.
“Kamu setia banget ya sama dia. Kamu buat hati aku sakit tau.”

Aku terdiam mendengar ucapan Tarra. Aku sungguh minta maaf karena telah membuatmu menunggu Tar. Aku sungguh tidak bermaksud jahat.
“Tapi sekarang udah gapapa kok. Ney, ikut aku yuk!”
“Mau kemana?” tanyaku heran.
“Udah ayo, ikut aja!”

Mobil Tarra sudah melaju selama 20 menit. Kami memasuki pusat kota Jakarta.
“Tar, kita mau kemana sih?”
“Ke Hotel”
“Hah? Ngapain???”
“Entar juga tau!”
“Jangan macem-macem ya Tar”
“Iya,iya. Hahahah”

Bundaran HI. Kenapa mesti lewat sini sih? Sebenarnya mau apa si Tarra ini. Aku abaikan rasa penasaranku. Ku pandangi setiap air mancur yang ada di kolam bundaarn itu. Menyejukkan. Bundaran ini masih tetap baik-baik saja. Patung nya masih berdiri tegak melambaikan tangan. Kolamnya pun masih tetap dihiasi dengan air mancur. Lalu lintasnya masih tetap padat seperti biasa. Si Bundaran HI-ku juga pasti sedang baik-baik saja. Aku tak habis pikir mengapa ia setega ini terhadap ku.

Kami memasuki hotel berbintang di kawasan Bundaran ini. Lalu kami duduk di salah satu restorannya. Tarra terlihat sedang mencari seseorang. Ia menebarkan pandangannya ke sekeliling restoran.
“Nah, itu dia!”. Tarra melambaikan tangan kepada seseorang yang baru saja memasuki restoran.
Orang itu mendekat. Tarra menyambutnya dengan peluk dan cipika-cipiki ala orang Barat. Ia duduk di sebelah Tarra.
“Ney, kenalin! Ini Vina. Pacar aku, kita kenalan di Amrik”
“Vin, ini Neysha. Teman yang sering aku certain ke kamu”

Tarra sibuk mengenalkan kami berdua. Aku menyambut hangat jabat tangan Vina. Wanita lembut nan cantik yang berpakaian sangat matching. Jinsnya yang ketat senada dengan warna tas nya yang buatan Italia. Blouse longgar yang memperlihatkan bahu sebelah kanannya sangat match dengan warna high heels yang dikenakannya. Rambutnya yang dicat brown tergerai indah dengan sedikit gelombang di bagian bawahnya. Warna softlense nya begitu senada dengan rambut indahnya. Dia benar-benar “Miss Matching”.

Kami menghabiskan kurang lebih satu jam untuk berbincang. Aku mengucapkan selamat atas kebahagiaan mereka. Ternyata Tarra sudah tidak menunggu ku. Maksud ia mengajakku ke sini rupanya untuk mengenalkan ku pada Vina. Entah apa maksudnya. Yang jelas, ia sekarang sudah memiliki kekasih. Aku pamit pulang pada mereka berdua. Tarra bermaksud mengantarku kembali pulang, tapi aku menolak.

Aku berjalan kaki ke luar hotel. Aku tak langsung naik taksi yang tersedia di depan lobby hotel. Aku ingin berkeliling sejenak mendekati Bundaran. Seraya berjalan di bawah kolong langit ini, aku berpikir. Aku mereview kejadian-kejadian hari ini. Fahrezi telah mati. Tarra kembali lalu pergi lagi. Ia hanya numpang lewat.

Aku menerka-nerka apa alasan Andi berlaku seperti ini. Mengapa ia tega sekali membuat identitas palsu dan berpura-pura mencintaiku. Aku kira hanya ada dua kemungkinan mengapa terjadi hal seperti ini. Pertama, Andi adalah seorang Playboy kelas kakap, yang sangat ahli menipu wanita. Atau yang kedua, Andi adalah seorang Psychosis yang tak pernah merasa bahwa dirinya telah melakukan kesalahan.

Aku segera mengambil HP di dalam tas ku. Terlintas suatu ide dalam benakku. Jari-jari ku bergegas mengetikkan nama itu. MOHAMMAD FAHREZI AMARA. Ku kirim ke nomor handphone Andi. Message delivered.

Tak lama kemudian, satu pesan masuk inbox-ku. Dari Andi. “Ada yang bisa saya bantu, Mas?” Aku balas, “Ini Fahrezi kan?”. Sms kembali masuk. “Maaf, saya bukan Fahrezi”. Smsnya membuatku geram. Ia masih saja tak mengaku siapa dirinya. Padahal aku sudah tau siapa dia. Aku katakan, “Oh, tentu saja. Fahrezi tidak kuliah di Bandung!”. Tak ada lagi sms balasan. Sungguh tega si Andi ini. Darah ku seakan naik ke otak. Aku begitu kesal. Cinta yang selama ini ku beri, dibalas dengan kedustaan yang sungguh menjijikan.
*

Aku sampai di rumah. Segera ku buka kotak yang berisi segala macam benda yang menyimpan kenangan ku dengan Fahrezi. Ada foto-foto ia di sana. Tersenyum khas dengan gigi gingsul nya. Aku tak tahan melihat senyuman ini. Tangan ku bergetar. Air mata siap meluncur deras ke pipi ku. Tapi ku tahan. Aku harus kuat.

Aku cabik-cabik semua foto dan tulisan-tulisan tangannya yang ku simpan rapi di kotak itu sejak dahulu kala. Tangan kanan ku sudah siap dengan sebuah korek api gas. Tangan kiri ku yang memegang sobekan itu terasa berat untuk mendekatkannya ke api. Aku membakarnya. Ku lihat wajahnya hangus bersama api. Entah perasaan macam apa yang ada di hati ku saat ini.

Di luar hujan begitu deras. Percikan airnya seakan menertawakan kebodohanku yang tertipu pangeran bertopeng dusta. Ku buang sisa bakaran ke luar. Ia terbawa aliran air hujan menjauh dari diri dan hidup ku. Bakaran itu mnyimbolkan semua kenangan ku tentang nya. Bakaran itu juga sebagai penanda berhentinya penantian ku selama lebih dari lima bulan. Ku biarkan seluruh tubuh ku basah oleh air hujan, agar tak ada yang tahu bahwa air mata ku mengalir bersama hujan ini.
*

Hari-hari berlalu. Sudah setengah tahun sejak pembakaran di malam itu. Cinta ku telah mati. Hati ku beku bersama jalannya waktu. Aku tak pernah lagi mencoba menghubungi Andi. Aku hapus nomor handphone nya. Aku block akun facebooknya. Aku tutup semua akses untuk mengingatkan ku padanya.

Sampai saat ini, aku tak tahu apa alasan Andi berpura-pura menjasi Fahrezi. Apa alasannya memiliki dua identitas. Bagaimana ia bisa menjalani hidup sebagai dua orang yang berbeda. Bagaimana juga ia berpura-pura begitu manis di depan ku. Entahlah. Yang pasti aku tahu. Aku pernah mencintainya. Mencintainya dengan segenap perasaanku. Tapi mungkin ini hanyalah cinta sendiri. Bukan cinta yang betepuk dengan kedua tangan, karena nyatanya Fahrezi adalah Andi. Andi yang telah memiliki Tia di dalam hidupnya. Terkadang, kita memang harus menerima bahwa ada rahasia di balik rahasia. Namun aku tetap yakin, setiap hal yang terjadi pasti menyimpan hikmahnya tersendiri.

Saat ini, aku sedang menyibukkan diri dengan pekerjaan freelance ku. Masi di redaksi majalah yang sama. Kali ini, aku mendapat tugas meliput komunitas sepeda yang berkumpul setiap minggu di Bundaran HI. Awalnya, aku keberatan karena aku harus melihat kembali bundaran itu yang bisa saja menguak kembali memori menyakitkan yang ku punya. Tapi, ini tugas dan aku harus professional. Aku rasa, setengah tahun sudah cukup untuk ku menyembuhkan luka. Aku harus bisa. Seorang penulis, tidak boleh kalah dengan traumanya.

Matahari mulai bergerak ke atas kepala. Aku harus berdamai dengan cuaca seperti ini. Banyak orang terlihat memadati bundaran yang satu ini. Mereka sibuk dengan sepeda nya masing-masing. Banyak juga yang sibuk dengan kamera DSLR nya. Oh,,Nikon D40x. Kamera kesayangan Fahrezi. Aku memandangi orang-orang yang membawa kamera itu dari kejauhan. Kebanyakan dari mereka masih muda. Mungkin seumuran dengan ku atau bahkan lebih muda.

Ada seseorang berpostur tubuh tinggi dengan badan yang agak kurus tak jauh dari tempat ku berdiri. Postur tubuhnya mirip sekali dengan si Bundaran HI. Ia mengenakan celana jins panjang dan jaket hitam. Rambutnya tidak pemdek cepak, melainkan agak sedikit panjang. Aku tak bisa melihat tampak depannya, ia sedang sibuk memotret gedung-gedung tinggi di sekitar bundaran. Ia berjalan mundur perlahan. Selangkah demi selangkah semakin mendekat ke arah ku. Aku hanya diam. Tubuh ku seakan terpaku di titik itu.

“Bruuuk.”
Ia menabrak ku yang tepat berada di belakangnya. Aku mengenali aroma parfumnya. Ini aroma Bvlgari Extreme yang sudah lama ku buang jauh dari hidup ku. Jantung ku berdegup kencangnya. Saking kencangnya, mungkin lelaki itu pun bisa mendengar suara degupannya.
“Eh, sorry.sorry..”, Ia membalikkan badan seraya membenarkan tas yang hampir jatuh dari lingkaran bahunya. Wajahnya tepat berada di hadapan ku. Dan ……………
#siap dengan kejutan berikutnya????? THE END.

Hahahahahah….
:D Akhirnya selesai juga cerbung yang satu ini. Sungguh menguras emosi menuliskan cerita di atas. Bikin gak mau makan kecuali lapar, dan gak mau tidur kecuali ngantuk *Bang Dika banget nih. Hahah

Terimakasih buat kalian semua yang udah bersedia baca. Maaf udah nunggu lama. Maaf juga, kalo endingnya gak sesuai yang kalian harapkan. Tapi, saya punya alasan sendiri kenapa memilih ending seperti ini. Terimakasih buat sahabat saya Nova yang banyak sekali memberi masukan sebelum saya menuliskan ini. Tapi maaf ya nov, ide gila yang luar biasa itu gak saya masukin di cerita ini. Hehe. Makasi juga buat Bahja dan Novi yang sering kasi saya semangat untuk menulis. And thanks for all of you guys, yang gak bisa disebutin satu-satu. Tunggu karya saya selanjutnya ya! 

"Bundaran HI" part 5

“Malem, ini Andi ya? Kalo mau mesen kaos, gimana ya?”, Dina mengawali sms nya.
“Iya mba Noni. Maaf tadi keputus ya chatnya.”, Andi menjawab pesan. Mba Noni?? Membingungkan. Mungkin Andi sedang chat dengan salah satu pelanggannya.
“Bukan. Ini gue Ririn. Lo kuliah di Bandung kan? Gue juga di Bandung. Kalo mau pesen kaos gimana ya?”. Dina sengaja menyembunyikan identitasnya. Karena bila benar Andi adalah Fahrezi, maka dia akan mengetahui bahwa yang mengirim pesan adalah Dina, sahabatku. Untung saja Dina baru mengganti nomor handphonenya. Jadi, bisa dipastikan Fahrezi tidak akan mengenali Dina.

Tik..tik..tik… Waktu terus berdetik. Namun, Andi yang diduga sebagai Fahrezi tak kunjung menjawab sms Dina. Tidak jelas kenapa. Ah, yasudahlah. Lagipula malam telah larut, saatnya aku mengistirahatkan seluruh tubuh ku ini.

And,, the morning has come.
Seperti biasa aku menyukai pagi hari. Pagi mampu membuatku merasa rileks. Hari ini aku kuliah siang. Masih ada waktu untuk menyusuri fakta mengenai “Bundaran HI”. Aku buka kembali layar Serra sebagai pembuka, kemudian ku tancapkan papan Surf bermerk Smart ke bagian samping kirinya. Kini, Aku siap berselancar di dunia maya.

Aku search akun FB Andi, tertulis disitu “friend request sent”, ah, aku ingat. Aku telah mengirimkan friend request untuknya semalam, jika ia benar adalah Fahrezi, tentu ia mengenali ku, dan pastinya ia tak akan mau kebohongannya terungkap. Pantas saja, ia tidak menjawab lagi sms Dina semalam, mungkin ia telah membuka list friend request nya. Bodoh sekali aku ini.

Aku klik ketiga link yang ada pada tab yang berbeda. Satu, FotoTerlalu. Masih belum ada yang berubah di halaman blog ini. Dua, blog galeri foto. Foto-foto yang terpajang juga masih sama. Tiga, Blog pribadi Andi. Halaman beranda masih tetap sama dengan tadi malam. Aku terus membaca postingannya hingga ke bagian bawah, dan terdapat banner Postingan Lama. Aku klik banner tersebut. Jeger. Serasa ada petir menyambar. Hatiku serasa ditikam pisau yang sangat tajam. Terasa sakit sekali. Begitu sakit hingga ku meneteskan air mata.

Di foto keempat, nampak wajah si “bundaran HI” dengan pose senyum yang semakin menampakkan ketampanannya, juga khas dengan gigi gingsulnya. Tangannya melingkar pada bahu seorang wanita berwajah innocent. Berpakaian modis, dan terlihat sangat manis. Bukan. Itu bukan Aku. Dia adalah wanita lain bernama Tia. Terdapat tulisan di setiap foto tersebut. Foto pertama bertuliskan “T”, kedua “I”, ketiga “A”, dan terakhir “You and Me =)”. 18 Oktober, tanggal postingan foto tersebut.

Semua sudah jelas sekarang. Andi adalah Fahrezi. Mereka adalah satu orang yang sama. Foto ini seolah membunuhku. Menusuk jantung ku begitu dalam hingga ku tak kuat menahan sakitnya. Mata ku seolah tak mampu menatap lebih lama ke layar Serra. Keindahan pagi seketika berubah menjadi malam pekat. Aku menangis sejadi-sejadinya. Sesegukan, hingga badan ku terasa kaku dan gemetar. Semua kenangan bersama Fahrezi berputar pada proyektor otak ku. Baik kenangan saat kita bersenda gurau atau pun saat aku risau dan rindu menanti kabarnya sepulang dari project di luar kota. Entah berapa menit yang aku habiskan untuk meratapi kebodohanku ini. Yang jelas, badan ku terasa lemas sekali, hingga aku pun tak kuasa menekan tombol HP untuk menelpon Dina.

Kenyataan memang pahit. Pahit sekali, jauh lebih pahit dari obat yang harus ku konsumsi setiap hari. Namun, akan lebih sakit jika aku tak pernah mengetahuinya.
Waktu terus berputar. Rasa penasaran kembali merasuk pikiran ku. Aku merasa perlu mencari lebih lanjut tentang Andi dan Wanita itu. Aku ingat ada satu link di blog Andi yang belum aku buka. Twitter. Aku klik link nya. OMG. Avatar di akun tersebut sama persis dengan foto Fahrezi yang terpasang di background laptop ku. Design background akun tersebut adalah foto seorang wanita bersama pria yang mengenakan kaos yang sama. Kaos hitam dengan gambar kamera di bagian depannya. Hanya saja, bagian leher ke atas di-crop, sehingga tak terlihat wajahnya. Namun, aku bisa memastikan, pria dan wanita di foto tersebut adalah Fahrezi dan Tia.

Tweet terakhir Andi adalah dua hari yang lalu. “Jatinangor mati lampu”. Hm,, dia kost di daerah Jatinangor, Bandung. Aku baca tweet-tweet nya beberapa hari dan minggu yang lalu. Semua menunjukkan dia baik-baik saja. Sehat wal’afiat dan tetap ceria. Aku tidak tahu harus senang atau sedih melihat keadaannya sekarang ini. Dia sehat, sesuai sekali dengan do’a ku selama ini. Tuhan menjawab do’a ku untuk menjaganya dengan baik, bahkan baik sekali. Hingga ia tetap tersenyum dan berkarya. Namun, di lain sisi, hatiku tersayat, tercabik-cabik tak karuan.

Luar biasa sekali Andi menghidupkan sosok Mohammad Fahrezi Amara yang begitu sempurnna di mata ku. Yang seakan menjadi dunia ku, sumber inspirasi ku, dan pemicu senyum ku di setiap pagi. Bukan satu atau dua bulan Andi memainkan peran itu. Tapi bertahun-tahun! Tak ada yang terlihat aneh dari hubungan ku dengan nya selama ini. Hanya saja secara tiba-tiba ia menghilang untuk mengakhiri semuanya.

26 Juni, saat ia mengutarakan cinta nya pada ku. Menuliskan symbol hati di jendela kamar ku yang berembun. Hari itu, hari ulangtahun ku tepat yang ke-18 tahun. Aku baru saja membuka mata ku dari tidur yang sangat nyenyak. Seseorang mengetuk jendela kamarku, lalu aku mengibaskan gorden yang menutupinya. Terlihat si “Bundaran HI” di situ dengan kaos lengan panjang yang tergulung seperdelapannya serta celana jins. Membawa seikat bunga mawar merah nan cantik seraya tersenyum, tampan sekali. Kemudian ia menghembuskan nafasnya di kaca jendela, dan melukiskan symbol “love”. Pagi yang sempurna.

Mohammad Fahrezi Amara. Dengan tiga huruf M di bagian pertama namanya. Aku tak boleh sedikit pun salah menyebut atau mengetikkan nya dalam chat. Ternyata, nama itu hanya nama palsu. Nama yang tak pernah ada sosok nyata nya di muka bumi ini. Nama fiktif ciptaan sang Andi. Aku tak tahu lagi mana yang berupa kebenaran dalam seluruh kisah ku dengan Fahrezi. Nama, tanggal lahir, tempat kuliah, semuanya palsu. Bagaimana dengan kisah tentang keluarganya yang tinggal di luar kota, dengan kisah perjuangannya untuk hidup mandiri, apakah itu semua juga kebohongan? Bagaimana dengan cinta nya pada ku? Ah, apakah aku masih pantas menyebutnya dengan sebutan Cinta?

Pangeran ku telah terbunuh. Oh bukan terbunuh, tapi dibunuh sang Raja Pendusta. Pangeran yang begitu sempurna dan mampu memesonakan semua mata, seketika mati. Mati di tangan Andi si pendusta.

mengapa bayangan mu tak kunjung muncul di bawah sinar yang cerah?
mengapa dering indah juga tak kunjung terdengar dari telepon genggamku?
mengapa pula tak ada satu pun pesan dalam kotak suratku?
bahkan namamu tak dapat lagi ku temukan dalam daftar panjang pengguna jejaring itu
mengapa?

dimana kah sosok mu?
di mana kau sembunyikan segala keindahan itu?
di mana kau simpan rapat rasa itu?
rasa yang sempat engkau singkap keberadaannya
di mana?

kemana akan kau bawa segala memori itu?
kemana kau buang sosok pangeran itu beserta kudanya yang tangguh?
kemana lagi kau akan tunjukan potret lain dirimu?
kemana?

“Tok,,tok,,tok”, seseorang mengetuk kaca jendela ku.
Siapa gerangan yang mengetuknya? Apakah aku bermimpi? Aku cubit pipi ku. Ah, sakit. Ini kenyataan. Mengapa seperti de javu dari tanggal 26 Juni? Siapa di sana?

*to be continued
Hehe,, ini pasti part yang ditunggu-tunggu ya, untuk tahu siapa gerangan Fahrezi itu. Semoga tidak kecewa dengan jalan cerita di atas ya. Tunggu kelanjutannya! :)
Baca sebelumnya http://www.facebook.com/note.php?note_id=496219354388

"Bundaran HI" Part 4

Berulang kali aku pandangi hasil pencarian googlesearch. Baru dibuka jurusan Komunikasi tahun 2010. Oh God,, apa-apaan ini? Jika benar ini adalah kebohongan, maka ia telah merusak segalanya.

Jam 9 malam, aku sampai di rumah. Aku hubungi teman ku yang juga berkecimpung di dunia fotografi. Aku tanyakan padanya apa saja group-group fotografi yang ada di jejaring facebook. Kemudian dia menyebutkan satu nama group yang sepertinya telinga ku tidak asing mendengarnya. “FotoTerlalu”. Aku pernah melihat tulisan ini di salah satu hasil jepretan Fahrezi. Di balik foto tersebut, tertuliskan “Terlalu”. Yap, one new clue! I got it. Thanks for my friend.

Dengan agak tergesa-gesa aku login akun facebook ku. Berjuta rasa penasaran berkelebat di pikran ku, agak sedikit dag dig dug berdebar jantung ku karena cemas. Langsung aku search Group tersebut. Ketemu! Aku baca perlahan setiap deskripsinya, aku perhatikan wajah-wajah para membernya. Hap, mata ku tertuju pada nama admins pendiri group ini. Ada dua nama di situ. Rezki dan Andi.

Aku klik di bagian nama Rezki, terpampang jelas profilnya. Ah, dia bukan Bundaran HI yang aku cari. Tak apa, aku add saja dia sebagai friend. Selanjutnya aku klik pada bagian Andi. Profilnya disembunyikan, hanya sedikit info dan foto profil di situ. Fotonya pun tidak jelas, bukan sesosok wajah yang terlihat di sana. Hanya sebuah gambar abstrak. Di bagian info, aku baca music favoritenya, Secondhand Serenade, Rocket summers, …. . Ah cukup, mengapa yang disukanya sama dengan Fahrezi. Siapakah gerangan Andi ini? Aku add saja dia.

Terdapat beberapa link di profil Andi, 3 alamat blog. Aku klik link-link tersebut. Pertama, blog “FotoTerlalu”. Di blog tersebut terdapat berita-berita pameran fotografi, pengumuman lomba, serta ada juga postingan yang menjajakan dagangan berupa kaos hasil design Rezki dan Andi. Yaampun, itu design kaos yang pernah Fahrezi tunjukan padaku. Ah, mengapa banyak kesamaan?? Aku catat saja nomor handphone Rezki dan Andi yang terpajang di sana.

Link kedua, blog pribadi Andi. Banyak tulisan di halaman berandanya. Yang paling atas mengenai selesainya proses ospek di kampus tempatnya berkuliah. Oh tidak, dia bukan mahasiswa baru. Dia adalah panitia yang bertugas, kuliahnya sudah mencapai semester akhir dan sedang sibuk menulis skripsi. Itulah deskripsi yang tergambar dari tulisannya. Berbeda sekali dengan Fahrezi yang baru kuliah satu tahun setelah ia lulus. Seharusnya ia kuliah tahun 2007, namun karena ia ingin kuliah dengan biayanya sendiri, maka selama satu tahun ia berjuang menjadi fotografer dan designer kaos. Tahun 2008, baru ia mendaftar kuliah di jurusan komunikasi. Andi berbeda dengan Fahrezi. Oke, itu kesimpulan sementaranya.

Aku membuka profil si pemilik blog. Dituliskan, Andi adalah seorang mahasiswa ilmu komunikasi di salah satu Universitas terkemuka di Bandung. Bandung? Ah, jauh sekali dengan ku yang di Jakarta. Aku lihat foto profilnya. Lagi-lagi tidak begitu jelas. Ah, mengapa misterius sekali Andi ini. Ada link ke akun twitter milik Andi. Ah, nanti saja aku melihatnya.

Aku buka link ketiga di tab lain. Sebuah blog yang isinya galeri foto. Terlihat banyak hasil foto di situ. Beberapa hasil editan juga sepertinya. Semuanya begitu indah dan berwarna. Aku klik page demi page galeri foto yang ada di akun tersebut. Sampai kepada halaman ke-7, ada satu foto seorang pria di situ. Latarnya sebuah pantai yang bersih dan sangat indah tentunya. Pria itu merentangkan kedua tangannya seraya tersenyum. Aku tidak mungkin lupa dengan wajah tersebut. Ya, wajah sesosok pria yang selama ini aku nanti. Fahrezi. Mengapa ada foto Fahrezi di sini? Ini akun milik Andi. Apa hubungan antara Rezki, Andi, kemudian Fahrezi? Terutama Fahrezi dan Andi, mereka memiliki banyak kesamaan. Suka fotografi, bisa mendesign kaos, menyukai jenis musik yang sama, ah apakah mereka orang yang sama? Tapi mengapa berbeda identitas?

Waktu menunjukan pukul 23.30. Mata ku sudah lelah sekali. Aku cukupkan berseluncur di dunia maya malam ini. Aku sudah mencatat nomor handphone Andi dan Rizki.
“tuut…tuut…”, nada tersambung.
“hallo”, suara Dina di seberang sana, sahabat karibku.
“hallo din, lagi apa? Mau cerita doongg..”
“lagi baca buku, ada apa ney?”, jawab sahabatku yang memang hobi membaca buku.
“gue nemuin beberapa keanehan soal Fahrezi nih”
“kenapa, kenapa?”, dia seperti sudah tak sabar mendengarkan. Langsung saja aku ceritakan semua yang aku temukan hari ini mengenai si “Bundaran HI”, termasuk megenai Andi si Misterius.
“jadi gitu din ceritanya, lo mau bantuin gue nggak?”
“apaan?”
“coba lo sms si Andi, pura-puranya lo mau mesen kaos. Mau ya?”
“oh, okee..”
“yaudah gue tutup dulu teleponnya, ntar kasitau gue ya apa jawabannya”
“siip”
Telepon diputus. Kira-kira apa jawaban si Andi itu?

*to be continued
Heheh,, maaf ya masi bersambung lagi. Jangan bosan mengikuti ceritanya ya! :D
Baca juga part 3 nya http://www.facebook.com/note.php?note_id=475218699388

Kamis, 19 Mei 2011

This is so sad

Tak bisa dipungkiri, bahwa sampai saat ini pun, perasaan itu masih ada.
Meskipun kau tetap enggan sekalipun hanya untuk menatap ku.
Mungkin kau pun tak akan pernah merasa kehilangan.
Sekali pun aku pergi jauh dari kalian.
Satu, dua, tiga, bahkan tujuh hari pun, ku yakin kau tak akan menanyakan keadaan ku.
Entah apa yang membuat mu seperti itu.
Mungkinkah kerasnya batu telah mengkontaminasi hatimu?
Mungkin juga kencangnya angin telah merancukan keberadaan ku di sekitar mu?
Menyedihkan!
Satu kata yang aku sampaikan untuk diriku sendiri.

identitas

Aku sudah di sini.
Di kota, tempat mu mengenyam pendidikan.
Tempat mu mengembangkan kreativitas, hingga menjadi orang yang handal.
Keberadaanku di sini membuatku merasa semakin dekat dengan jejak-jejak mu.
Keseharianmu. dan segala tentangmu.
Tiap jalan yang ku lewati, ku pastikan juga pernah kau lewati.
Tapi ini hanya sebuah jalan di lalu lintas.
Bukan jalan hidup kita.
Kita sudah terpisah, tanpa pernah utuh tersatukan.
Bukan jarak yang menjadi masalah.
Bukan juga kepribadian satu sama lain.
Melainkian sebuah identitas.
Identitas yang menghancurkan semua citramu yang sempurna di mataku.
Identitas palsu.
-Bandung, Maret 2011-

Jumat, 21 Januari 2011

samar

Semua yang ku lihat adalah kesamaran
Saat ku mulai yakin bahwa ada satu jalan yang tepat di sana,
tiba-tiba saja banyak jalan lain membentang.
Membuat ku harus kembali memutar otak.
Aha, ataukah aku harus merasakaanya dengan hati?
Oh tidak bisa! Hati ku sudah mati.
Bagaimana dengan diri mu?
Apakah jarak pandang mu juga tertutup kabut yang tebal?
Begitu tebal,
hingga kau tak mampu melihat ataupun merasakan dengan jelas
kehangatan yang siap menyambutmu di jalan antara pepohonan itu.
-nadia-21012011

huruf "menara Eiffel"

satu per satu aku tahu hasilnya
diawali kecemasan dan berbagai asumsi, baik positif maupun negatif
namun kemudian dag dig dug segera berganti dengan kelegaan
senyum sumringah sudah pasti dapat terlihat di paras ku
ternyata, huruf berbentuk menara Eiffel itu lah biang kerok nya.

:) Alhamdulilah, konstan. tetap ada satu yg tidak menara Eiffel.