Senin, 17 Oktober 2011

selesaikan!

Aku tidak pernah menyangka akan terjebak dalam kondisi seperti ini.
Mengapa harus aku? Awalnya aku pikir, semua akan baik-baik saja, berjalan tanpa hambatan. Lalu ternyata ada dia.
Dia dari masa lalu yang begitu menguras emosi mu.
Masa lalu yang belum kau selesaikan. Namun, kau ajak aku untuk berada di antara ketidakjelasan kalian. Tidak bisa dibiarkan.
Bila memang kau ingin kembali padanya, pergi lah.
Bila ingin melepasnya, ya lepaskanlah.
Biarkan yang berlalu tetap berlalu tanpa sisa.
Lepaskan apa yang harus kau lepaskan.
Selesaikan apa yang harus kau selesaikan.
Aku tetap di sini, dan masih terus di sini untuk mu.

stop the time

Aku ingin sekali menghentikan waktu di mana hanya ada kita.
Waktu ketika kamu hanya memperhatikan aku.
Waktu di mana tak ada orang lain yang bisa menyakitiku.
Serta tak ada satu pun yang dapat menarik dirimu. Waktu itu lah yang aku inginkan.
Karena segala hal menjadi begitu rumit dengan kehadiran orang lain.
Orang-orang tersebut membuatku sadar bahwa kau tak pernah sesuangguhnya memihakku.
Mereka berkesempatan untuk melukaiku.
Ya, mereka mengambilmu dari dunia ku.

Sabtu, 15 Oktober 2011

bell

hai guys, long time no see.. *ehh emang kita pernah ketemu? hahah

i wanna share something. it's about a bell. tau bel kan? itu lho yg biasa dibunyiin sama tamu yg dateng. rumah gue sih ga pake bel. tp gw pengen aja bahas ini, dan lagi ini bukan tentang bel rumah. terus tentang apaaaa??
etss sabar dulu coy!

kita mulai phylosophically dulu. kalo ada tamu yg dateng, pasti dia bunyiin bel kita kan? "ningnong, ningnong" anggap aja bunyinya begitu. Refleks, si empunya rumah bergegas membukakan pintu kepada sang tamu yg telah menunggu. Dengan maksud baik di dlaam hatinya untuk mempersilahkan si tamu masuk dan menjamunya dengan baik.
Namun, apa yang terjadi ketika dibukakan pintu, eh ternyata si tamu malah kabur??
what do you think guys?
kesel lah ya! kecewa gitu, rasanya pengen showeran. *ehh :P

Begitu juga yg terjadi dengan bel hati kita. (lho, ko nyambung ke hati? ya suka-suka gue lah ya. ini kan blog gue! hahahaha)
kenapa hati??? gini deh. bayangin aja, kalo ada orang "ningnongin" hati lo. Lo udah dengan senang hati bersiap membuka pintu. Lho, ko dia nya malah kabur? ngeeeeeeeek, tanda seru besar di kepala coy. aneh banget gak sih. emang salah gue apa gitu?
Kalo gak niat namu, gak usah pencet2 bel nya deh ah! *emosi.

hahahaha. sumpah, ini tulisan gajelas abis. terus kenapa? yaudah gw mau tidur. daaaahhh. selamat menanti bel hati nya dibunyikkan ya guys :P

Selasa, 09 Agustus 2011

Nadia, LKM, dan Mimpinya

Sebelum LKM, saya tidak pernah terikat dengan organisasi mana pun. Ketika SD, saya hanya seorang gadis kecil yang hobby bermain Barbie. Beranjak SMP, saya masih belum bisa membuka diri. Saya hanya bergabung sebagai anggota di ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR). Saya sempat juga menjadi anggota Pramuka, namun itu hanya karena diwajibkan oleh guru BP. Lulus dari SMP, saya masuk SMK yang memiliki klub debat Bahasa Inggris. Karena saya memang menyukai bahasa yang satu ini, saya pun bergabung.

Di klub debat, saya tidak harus mengurus apa-apa. Saya hanya harus berlatih, berlatih, dan berlatih hingga menjadi juara. Semua yang saya butuhkan, baik itu minuman, makanan, hingga pakaian untuk lomba, semua disediakan oleh guru pembimbing saya yang amat baik hati. Pelatih debat saya memang galak, tapi ada ibu guru yang senantiasa memanjakan saya. What a fun!

Memasuki Universitas Negeri Jakarta, saya berkenalan dengan Lembaga Kajian Mahasiswa. Awalnya, saya hanya tahu lembaga ini suka melakukan diskusi tentang berbagai issue (mirip klub debat saya), dan para pengurusnya telah menang lomba dimana-mana. Saya pun tertarik dan bergabung. Setelah dua tahun menjalani di LKM, ternyata LKM jauh dari sebatas yang saya tahu di atas.

Tahun pertama di LKM, saya bahagia sekali memiliki banyak kakak dan teman-teman baru. Saya dikenalkan dengan dunia kajian, penulisan, dan public speaking. What a great! Berkat kegiatan-kegiatan rutin dan budaya di LKM, saya membuka diri untuk tidak hanya membaca komik dan novel, tapi juga buku-buku ilmiah. Saya beberapa kali meluncurkan pendapat di kelas berdasar buku-buku yang saya baca. Hal ini berhasil membuat seisi kelas terdiam dan hanya memerhatikan apa yang saya ucap.

Saya juga membiasakan diri untuk menulis, karena saya tak mau kenangan saya musnah. Hal ini terjadi segera setelah saya mendengar kalimat “script manent, verba volent!”. Kalian dapat melihat tulisan-tulisan saya di nadia-nurfadilah.blogspot.com . Pengalaman menulis yang masih teringat hingga sekarang adalah ketika saya menulis kontemplasi untuk Buletin Kaji edisi pertama pada tahun kepengurusan 2010-2011. Saya tak pernah menyangka, tulisan itu akan dipuji oleh seorang kakak senior, hahah. Padahal kalo sekarang dibaca lagi, pasti banyak banget kurangnya.

Tak berhenti sampai di situ, Saya pun menjadi semakin percaya diri untuk berbicara di depan orang banyak. Bisa dibilang, tiap kali saya presentasi, suasana di kelas menjadi hidup. Seorang teman yang jarang masuk kelas pernah berkata, “gue ngerti nad, kalo lu yang presentasi”, ditutup dengan senyumannya. Saya juga beberapa kali dipercayai menjadi MC dan moderator. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Karena teman-teman tahu saya anak LKM, saya sering diberi tawaran untuk menjadi MC di acara jurusan. Padahal, saya tidak bergabung dengan himpunan mahasiswa jurusan ataupun fakultas.

Tahun pertama di LKM, benar-benar tahun dengan banyak pengalaman baru. Berlanjut ke tahun kedua, saya dan teman-teman BRAIN (nama angkatan 09 LKM) mendapat adik-adik. PLATO, itu nama mereka. Tanpa disangka-sangka pula, pasca pergantian kepengurusan, saya diamanahkan menjadi Ka.Dept. PSDM. Saya senang menerima amanah tersebut, namun saya pun tahu pasti ini akan berat.

Benar saja, menjadi salah satu BPH (bada pengurus harian) memiliki tanggungjawab yang tidak sedikit. Masalah silih berganti hadir, baik internal maupun eksternal LKM. Saya, yang dulu hanya seorang remaja perempuan yang suka dimanja, sekarang harus bertanggungjawab atas banyak hal. Tak hanya LKM, tapi juga keluarga dan akademik.

Saya belajar banyak hal dari LKM. Saya mulai mengerti apa itu komitmen terhadap organisasi, bahkan saya juga baru tahu istilah BPH dari LKM (hahahah,gak gaul).
Saya mulai belajar me-manage waktu yang hanya 24jam per-hari nya. Saya belajar untuk bergaul dengan banyak orang dari lingkungan (kelas) yang berbeda. Saya dikenalkan dengan berbagai keilmuan yang sangat beragam di LKM. Intinya, saya belajar banyak hal di LKM. :)

Bila ditanya, apa mimpi saya ke depannya? Saya pasti akan menjawab, “Diplomat!!!”. Heheh, saya memang bercita-cita menjadi diplomat muda (umur kepala 2), yang membela Indonesia di mancanegara. Bekal-bekal yang saya dapat di LKM, saya yakin akan sangat berguna dalam rangka mencapai mimpi saya itu. Oke, cukup itu cita-cita saya.

Kalo harapan untuk LKM, tentunya saya berharap bisa terus belajar di LKM, dan membagi apa yang telah saya dapat kepada generasi-generasi LKM seterusnya. “Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”, yak kan Boy?!(Boy, sahabat saya). Saya berharap tak ada istilah “lost generation” di LKM. Setiap tahunnya, LKM harus mencentak pemikir-pemikir muda yang memegang teguh MEDIS. Terus semangat LKM’ers! Jangan sampai buat LKM bersedih. Go go girls and boys..! *senyum semangat

By. Princess Nadia
Sm*sh blast amatir yg cuma suka Bisma :p

Anda Ikhlas? Silahkan Masukkan Uang ke Kantong Saya


Anda Ikhlas? Silahkan Masukkan Uang ke Kantong Saya
Oleh Nadia Nurfadilah

“Dasar anak badut, anak badut..!”, begitu teman-teman Gigih biasa mengejek. Gigih, bocah berusia sebelas tahun adalah putra kedua dari seorang Badut di Taman Monumen Nasional (Monas).

Minggu, 17 Juli 2011. Seperti hari Minggu yang biasanya, Monas diramaikan oleh banyak pengunjung yang sengaja meluangkan waktunya di tempat ini. Mereka duduk-duduk di bawah pohon, jalan berkeliling monas, serta ada juga yang sengaja menikmati pijat refleksi.

Di tepi barat Tugu Monas, seorang Badut kelinci dengan warna ungu nya yang mencolok, menarik perhatian. Orang-orang biasa memanggilnya ‘Om Badut’. Tak ada pengunjung atau pun pedagang yang tahu nama asli Om Badut ini, kecuali anaknya Gigih. Menurut penuturan Gigih, Kusmono adalah nama asli Bapaknya.

Kusmono, bapak yang sehari-hari bekerja di sebuah konveksi tas di daerah Taman Mini, setiap hari sabtu dan minggunya mengenakan kostum badut kelinci. Ia dengan tulus hati menghibur pengunjung yang melintas (khususnya anak-anak) di tepi barat Tugu Monas. Ia melambaikan tangan, bersalaman, serta rela diajak foto bersama.

Om Badut menggantungkan nasib pendapatannya pada keikhlasan hati para pengunjung. Ia tidak digaji oleh instasi pemerintahan. Ia juga tidak terikat dengan yayasan atau instasi mana pun. Ia adalah seorang badut yang bekerja mandiri dengan satu-satunya kostum yang ia punya.

Seusai berfoto bersama, Pengunjung yang sadar biasanya memasukan uang ke kantong depan Om Badut. Namun, masi banyak pengunjung yang tidak tahu atau mungkin enggan memberikan uang tersebut. Mereka berpikir Om Badut adalah hiburan gratis tatkala mereka melintas. Om Badut tak pernah meminta-minta untuk diberikan uang. “Kalo gak dikasih, ya gak apa-apa”, cerita om Badut.

Pendapatan Om Badut berkisar antara Rp 30.000 - Rp 40.000 per hari. Pernah sesekali Om Badut mendapatkan Rp 65.000 ketika Monas benar-benar ramai. Itu pun masi dibilang kecil, mengingat ongkos perjalanan Om Badut dari rumahnya di Bekasi menuju Monas. Belum lagi ia harus merogoj kocek untuk makan bersama Gigih, anaknya yang selalu ikut ia bekerja. Setiap malam minggu, bahkan Om Badut dan Gigih terpaksa menginap di emperan stasiun Gambir demi mengirit ongkos mereka.

Selain Gigih, Om Badut masih mempunyai dua putra. Wisnu (19) yang memilih pindah ke Aceh untuk mencari nafkah, dan Wondan (13) yang sekarang duduk di tingkat 2 SMP Al-Huda. Istri Om Badut adalah seorang ibu rumah tangga. Namun, ia seringkali dimintai tolong untuk mengasuh anak tetangganya.

Gigih mengaku malu jika teman-temannya tahu bahwa Bapaknya adalah seorang Badut di Monas. Pernah ketika Om Badut masih bekerja di Taman Mini Indonesia Indah (tahun 2006), teman-teman Gigih mengejek dirinya “Dasar anak badut, anak badut..!”. Karena itulah, saat ini Ia memilih untuk tidak memberitahu satu pun temannya tentang pekerjaan Bapak di hari Sabtu dan Minggu.

Berbeda dengan pengakuan anaknya, Om Badut tidak malu mengakui bahwa dirinya adalah seorang Badut. “Gak malu, orang nyari duitnya halal kok!”, tutur Om Badut. Om Badut mengaku senang menghibur, terutama anak-anak. “Kaya anak sendiri aja”. Ia tidak mengeluh jenuh, kepanasan, atau pun lelah, meskipun ia harus berjam-jam berdiri mengenakan kostum kelinci yang tebal.

Sungguh mulia hati Om Badut. Ia tetap bermurah hati menghibur warga Jakarta yang ada di Monas, meskipun nasibnya seringkali tak diperhatikan. Ia rela difoto bak model, meski tanpa bayaran. Ia rela berpanas-panasan hanya demi menunggu bocah kecil yang melintas.

Minggu, 03 Juli 2011

cengceremen

Hai blogger! Now, I’m going to tell you about my beloved friends! Cengceremen! Yang kepanjangannya adalah Cecama Anggota Celas Nonreg Manajemen. Susah ya bacanya? Emang alay banget nih nama! Hahahaa But, whatever! I love cengceremen!

Cengceremen adalah sebutan anak-anak kelas S1 Manajemen nonreg angkatan 2009. Yap, kelas di mana gue menuntut ilmu selama 4semester ini. Tadinya kelas gue beranggotakan lebih dari 30 orang, namun seiring berjalannya waktu, satu dan lain hal, sekarang hanya tersisa 25 orang!

Selain belajar di kelas bareng-bareng (ya otomatis itu sih ya), kita juga sering hang-out bareng! Udah sering banget kita pergi bareng-bareng, yang menurut gue kesemuanya memberikan kesan yang unforgettable! Pasti ada aja deh kejadian yg ga bisa gue lupa, hahaha. Hmm,namun sayang sih, gak kesemuanya ikut serta dalam tiap vacation kita. I hope we can go together someday! All cengceremen! Hahaha

Sebelum gue cerita tentang vacation kita, satu hal yang gue suka banget dari cengceremen adalah … eng ing eng.. (*eh jayuz banget deh nad). Kita sering belajar bareng di luar kelas dalam rangka persiapan quiz, UTS, ataupun UAS. Ini yang ngebuat kita kompak dan maju bersama. InsyaAllah. Sampe ada dosen yang memuji kita lhoo.. *pamer dikit. Hahaha. Kalo udah lagi belajar bareng nih, cengceremen pada ngumpul, gue, dhea, ayu, dan beberapa lainnya pasti dengan perasaaan deg-degan karena beberapa jam lagi test dimulai. Tapi, akan selalu ada aja hal yang mencairkan suasana dan ngebuat suasananya jadi riang. Sebut saja Denni, Raymond, dan Rizki. 3 cowo yang paling sering banget ngelawak ketika cengceremen ngumpul. Denni dengan guyonan-guyonan konyolnya, Raymond dengan tampang “no expression” alias flat bertingkah aneh depan kita semua, dan Rizki dengan usahanya untuk ngedeketin Ayu. Hahhaha

Ditambah lagi Tinus, yang hobi joged ala Parto, Faris dan Ageng yang hobi bilang Bahja “Autis”, Anna yang selalu punya cerita tiap datang, dan banyak lainnya. Masing-masing dari kita punya sesuatu yang dijadikan bahan ledekan sama cengceremen. Gue yang emang dari kecil tinggal di priuk dan kebetulan lulusan SMK, dibilang sebagai “preman priuk yang tukang tawuran”. Ampun dah, gue gak sebandel itu. Vifa dengan pipi merah jambunya, Eni dengan kebiasaan perut mulesnya, Bahja dengan hidung pesek dan tingkah anehnya, Anna dengan badan yg gak kecil dan lantang suaranya, serta Nova dengan kebiasaaanya yang gak nyambung ketika pembicaraan. Hahhahaha

Oke, now! Gue akan cerita beberapa kisah dari vacations kita. 5 desember 2010, cengceremen went to Dufan. Sayang, Cuma 8 orang yang ikut dalam agenda “sehari bermain bersama ini”. Kebanyakan dari yang ikut adalah perempuan, Ageng and Denni are the only boys here. Udah aja lah kita jadiin momen ini buat ngeledek mereka sebagai pasangan serasi, alias “maho”. *eits tapi gak sebenernya ko. Ageng normal, dia udah punya pacar. Kalo Denni? Gatau deh gue, sampe sekarang belom keliatan ngegandeng cewe sih.hahah

Kita juga menobatkan tanggal 5 Desmber 2010 sebagai tanggal bersejarah! Yaitu tanggal jadian Denni sama Ageng! Hahahha *peace boys.. :D

Moving on to next vacation. Bandung.. Yeay! Tepatnya tanggal 20 Januari 2011 cengcermen jalan-jalan ke Bandung. Kita telah mempersiapkan jalan-jalan ini dari jauh-jauh hari sampe ngebentuk panitia kecil-kecilan. Rizki, si big boss, yang ngurusin sewa mobil, Vifa yang ngumpulin uang anak-anak dan beliin cemilan, gue sendiri sebagai seksi acara yang ngatur agenda satu hari full.

Jam 7 pagi, gue,rizki,ben,nova,bahja,leny, dan pak supir (gue lupa namanya) berangkat dari kampus menuju rumah Vifa tempat cengceremen lainnya berkumpul. Kita jemput mereka di BKKBN (deket rumah vifa) dan langsung caw to Bandung. Perjalanan yang begitu ceria, saying sekali dilengkapi adegan nyasar yang disebabkan miscommunication. Ternyata eh ternyata, si pak supir mengira kita akan ke ciater, sedangakan tujuan sebenarnya adalah Kawah Putih. Ya jadilah kita dibawa muter-muter Subang. Lengkap lagi ceritanya dengan scene dikejar polisi. Hahah

Jadi ceritanya begini, ada razia di sebuah persimpangan di Subang, and then salah satu polisi ngeberhentiin mobil kita. Tapi si supir malah jalan terusss. Sang polisi dengan sigap ngambil motornya dan ngejar mobil kita. Gue dan teman-teman otomatis shock. Jadilah kita tuh supuir ditilang. Tapi Alhamdulilah, Thanks God, gue dan teman-teman masih baik-baik aja sampe sekarang. Hahaha

Waktu berlalu. Jam demi jam, finally sampailah kita di Kawah Putih - Bandung!


Sebenernya masih banyak lagi cerita tentang cengceremen dan semua agendanya. Waktu kita ke Ragunan, malem tahun baruan, ke taman safari, sampe karokean menggila bareng abis UAS. Tapi, lain kali lagi y ague certain tentang itu. Yang pasti adalah gue suka menjadi bagian dari cengceremen dan beruntung mengalami banyak hal dengan mereka. Love you guys! :p



who am i?



Setelah lama nge-blog, akhirnya gue berpikir, pasti pertama kali liat blog gue orang langsung bosen karena isinya tulisan semua. Ditambah lagi, tanpa tahu siapa gue dan bagaimana kepribadian gue. So, I think I need to share it to you, about me and my world.. jeng jeng jeng….

Gue Nadia Nurfadilah, kuliah Manajemen, fakultas Ekonomi di UNJ. Gue angkatan 2009. Sekarang gue lg liburan dalam masa transisi menuju semester 5. Mungkin banyak yang bertanya, kenapa banyak tulisan gue tentang bundaran HI? Yap, gue emang suka banget sama itu Bundaran. Gausah tanya kenapa, because sometimes you don’t need to explain why you like something. Hahhaha..

Oya, selain kesukaan gue akan bundaran itu, gue juga punya project tulisan mengenai Landmark Jakarta, dan objek yang gue pilih adalah (yang lo uda pasti tau jawabannya) Bundaran HI. Jadi, gue sering kesana untuk observasi dan ngumpulin data buat tulisan gue. Rencananya tulisan itu akan dibukukan bersama tulisan temen-temen gue lainnya di Lembaga Kajian Mahasiswa (organisasi yang gue ikutin). So, doain aja project ini lancer dan bukunya bisa terbit di pasaran. Amin.... :))

Then, selain project Landmark, gue juga nulis cerpen dengan judul BUndaran HI. Eh lebih ke cerita bersambung gitu sih. Ada 6 part yang kesemuanya bisa kalian liat di blog ini, cek sendiri nanti ya! :D

Gue bukan orang yang jago nulis, tapi gue mencoba membiasakan diri gue aja untuk menulis. Hal ini terjadi sejak gue mendengar jargon “script manent, verba volent”. Tulisan akan permanen, ucapan akan musnah. WOW! Ini jargon luar biasa menurut gue (gatau sih buat kalian, iya apa gak.haha). Jargon ini gue denger dari seorang kakak senior yang jago banget menulis. Sampe sekarang, beliau masih suka memotivasi gue untuk menulis. Thanks ka! Oya, selamat bentar lagi lulus. Yeay!

Di blog ini gue nge-share banyak tulisan yang gue sendiri bingung mengklasifikasikan itu ke bentuk apa. Yang jelas, itu luncuran kata-kata yang mengalir begitu saja di benak gue. Kalo dibilang pantun, gue smaa sekali gak memperhatikan rima. Dibilang puisi, juga ko kayanya terlalu sederhana. Dibilang syair apalagi, bukan deh ah kayanya. Apa pun itu, I love to write it! Silahkan menikmati goresan-goresan kata itu di blog ini. Feel free to comment! :D