Senin, 17 Oktober 2011

stop the time

Aku ingin sekali menghentikan waktu di mana hanya ada kita.
Waktu ketika kamu hanya memperhatikan aku.
Waktu di mana tak ada orang lain yang bisa menyakitiku.
Serta tak ada satu pun yang dapat menarik dirimu. Waktu itu lah yang aku inginkan.
Karena segala hal menjadi begitu rumit dengan kehadiran orang lain.
Orang-orang tersebut membuatku sadar bahwa kau tak pernah sesuangguhnya memihakku.
Mereka berkesempatan untuk melukaiku.
Ya, mereka mengambilmu dari dunia ku.

Sabtu, 15 Oktober 2011

bell

hai guys, long time no see.. *ehh emang kita pernah ketemu? hahah

i wanna share something. it's about a bell. tau bel kan? itu lho yg biasa dibunyiin sama tamu yg dateng. rumah gue sih ga pake bel. tp gw pengen aja bahas ini, dan lagi ini bukan tentang bel rumah. terus tentang apaaaa??
etss sabar dulu coy!

kita mulai phylosophically dulu. kalo ada tamu yg dateng, pasti dia bunyiin bel kita kan? "ningnong, ningnong" anggap aja bunyinya begitu. Refleks, si empunya rumah bergegas membukakan pintu kepada sang tamu yg telah menunggu. Dengan maksud baik di dlaam hatinya untuk mempersilahkan si tamu masuk dan menjamunya dengan baik.
Namun, apa yang terjadi ketika dibukakan pintu, eh ternyata si tamu malah kabur??
what do you think guys?
kesel lah ya! kecewa gitu, rasanya pengen showeran. *ehh :P

Begitu juga yg terjadi dengan bel hati kita. (lho, ko nyambung ke hati? ya suka-suka gue lah ya. ini kan blog gue! hahahaha)
kenapa hati??? gini deh. bayangin aja, kalo ada orang "ningnongin" hati lo. Lo udah dengan senang hati bersiap membuka pintu. Lho, ko dia nya malah kabur? ngeeeeeeeek, tanda seru besar di kepala coy. aneh banget gak sih. emang salah gue apa gitu?
Kalo gak niat namu, gak usah pencet2 bel nya deh ah! *emosi.

hahahaha. sumpah, ini tulisan gajelas abis. terus kenapa? yaudah gw mau tidur. daaaahhh. selamat menanti bel hati nya dibunyikkan ya guys :P

Selasa, 09 Agustus 2011

Nadia, LKM, dan Mimpinya

Sebelum LKM, saya tidak pernah terikat dengan organisasi mana pun. Ketika SD, saya hanya seorang gadis kecil yang hobby bermain Barbie. Beranjak SMP, saya masih belum bisa membuka diri. Saya hanya bergabung sebagai anggota di ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR). Saya sempat juga menjadi anggota Pramuka, namun itu hanya karena diwajibkan oleh guru BP. Lulus dari SMP, saya masuk SMK yang memiliki klub debat Bahasa Inggris. Karena saya memang menyukai bahasa yang satu ini, saya pun bergabung.

Di klub debat, saya tidak harus mengurus apa-apa. Saya hanya harus berlatih, berlatih, dan berlatih hingga menjadi juara. Semua yang saya butuhkan, baik itu minuman, makanan, hingga pakaian untuk lomba, semua disediakan oleh guru pembimbing saya yang amat baik hati. Pelatih debat saya memang galak, tapi ada ibu guru yang senantiasa memanjakan saya. What a fun!

Memasuki Universitas Negeri Jakarta, saya berkenalan dengan Lembaga Kajian Mahasiswa. Awalnya, saya hanya tahu lembaga ini suka melakukan diskusi tentang berbagai issue (mirip klub debat saya), dan para pengurusnya telah menang lomba dimana-mana. Saya pun tertarik dan bergabung. Setelah dua tahun menjalani di LKM, ternyata LKM jauh dari sebatas yang saya tahu di atas.

Tahun pertama di LKM, saya bahagia sekali memiliki banyak kakak dan teman-teman baru. Saya dikenalkan dengan dunia kajian, penulisan, dan public speaking. What a great! Berkat kegiatan-kegiatan rutin dan budaya di LKM, saya membuka diri untuk tidak hanya membaca komik dan novel, tapi juga buku-buku ilmiah. Saya beberapa kali meluncurkan pendapat di kelas berdasar buku-buku yang saya baca. Hal ini berhasil membuat seisi kelas terdiam dan hanya memerhatikan apa yang saya ucap.

Saya juga membiasakan diri untuk menulis, karena saya tak mau kenangan saya musnah. Hal ini terjadi segera setelah saya mendengar kalimat “script manent, verba volent!”. Kalian dapat melihat tulisan-tulisan saya di nadia-nurfadilah.blogspot.com . Pengalaman menulis yang masih teringat hingga sekarang adalah ketika saya menulis kontemplasi untuk Buletin Kaji edisi pertama pada tahun kepengurusan 2010-2011. Saya tak pernah menyangka, tulisan itu akan dipuji oleh seorang kakak senior, hahah. Padahal kalo sekarang dibaca lagi, pasti banyak banget kurangnya.

Tak berhenti sampai di situ, Saya pun menjadi semakin percaya diri untuk berbicara di depan orang banyak. Bisa dibilang, tiap kali saya presentasi, suasana di kelas menjadi hidup. Seorang teman yang jarang masuk kelas pernah berkata, “gue ngerti nad, kalo lu yang presentasi”, ditutup dengan senyumannya. Saya juga beberapa kali dipercayai menjadi MC dan moderator. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Karena teman-teman tahu saya anak LKM, saya sering diberi tawaran untuk menjadi MC di acara jurusan. Padahal, saya tidak bergabung dengan himpunan mahasiswa jurusan ataupun fakultas.

Tahun pertama di LKM, benar-benar tahun dengan banyak pengalaman baru. Berlanjut ke tahun kedua, saya dan teman-teman BRAIN (nama angkatan 09 LKM) mendapat adik-adik. PLATO, itu nama mereka. Tanpa disangka-sangka pula, pasca pergantian kepengurusan, saya diamanahkan menjadi Ka.Dept. PSDM. Saya senang menerima amanah tersebut, namun saya pun tahu pasti ini akan berat.

Benar saja, menjadi salah satu BPH (bada pengurus harian) memiliki tanggungjawab yang tidak sedikit. Masalah silih berganti hadir, baik internal maupun eksternal LKM. Saya, yang dulu hanya seorang remaja perempuan yang suka dimanja, sekarang harus bertanggungjawab atas banyak hal. Tak hanya LKM, tapi juga keluarga dan akademik.

Saya belajar banyak hal dari LKM. Saya mulai mengerti apa itu komitmen terhadap organisasi, bahkan saya juga baru tahu istilah BPH dari LKM (hahahah,gak gaul).
Saya mulai belajar me-manage waktu yang hanya 24jam per-hari nya. Saya belajar untuk bergaul dengan banyak orang dari lingkungan (kelas) yang berbeda. Saya dikenalkan dengan berbagai keilmuan yang sangat beragam di LKM. Intinya, saya belajar banyak hal di LKM. :)

Bila ditanya, apa mimpi saya ke depannya? Saya pasti akan menjawab, “Diplomat!!!”. Heheh, saya memang bercita-cita menjadi diplomat muda (umur kepala 2), yang membela Indonesia di mancanegara. Bekal-bekal yang saya dapat di LKM, saya yakin akan sangat berguna dalam rangka mencapai mimpi saya itu. Oke, cukup itu cita-cita saya.

Kalo harapan untuk LKM, tentunya saya berharap bisa terus belajar di LKM, dan membagi apa yang telah saya dapat kepada generasi-generasi LKM seterusnya. “Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”, yak kan Boy?!(Boy, sahabat saya). Saya berharap tak ada istilah “lost generation” di LKM. Setiap tahunnya, LKM harus mencentak pemikir-pemikir muda yang memegang teguh MEDIS. Terus semangat LKM’ers! Jangan sampai buat LKM bersedih. Go go girls and boys..! *senyum semangat

By. Princess Nadia
Sm*sh blast amatir yg cuma suka Bisma :p

Anda Ikhlas? Silahkan Masukkan Uang ke Kantong Saya


Anda Ikhlas? Silahkan Masukkan Uang ke Kantong Saya
Oleh Nadia Nurfadilah

“Dasar anak badut, anak badut..!”, begitu teman-teman Gigih biasa mengejek. Gigih, bocah berusia sebelas tahun adalah putra kedua dari seorang Badut di Taman Monumen Nasional (Monas).

Minggu, 17 Juli 2011. Seperti hari Minggu yang biasanya, Monas diramaikan oleh banyak pengunjung yang sengaja meluangkan waktunya di tempat ini. Mereka duduk-duduk di bawah pohon, jalan berkeliling monas, serta ada juga yang sengaja menikmati pijat refleksi.

Di tepi barat Tugu Monas, seorang Badut kelinci dengan warna ungu nya yang mencolok, menarik perhatian. Orang-orang biasa memanggilnya ‘Om Badut’. Tak ada pengunjung atau pun pedagang yang tahu nama asli Om Badut ini, kecuali anaknya Gigih. Menurut penuturan Gigih, Kusmono adalah nama asli Bapaknya.

Kusmono, bapak yang sehari-hari bekerja di sebuah konveksi tas di daerah Taman Mini, setiap hari sabtu dan minggunya mengenakan kostum badut kelinci. Ia dengan tulus hati menghibur pengunjung yang melintas (khususnya anak-anak) di tepi barat Tugu Monas. Ia melambaikan tangan, bersalaman, serta rela diajak foto bersama.

Om Badut menggantungkan nasib pendapatannya pada keikhlasan hati para pengunjung. Ia tidak digaji oleh instasi pemerintahan. Ia juga tidak terikat dengan yayasan atau instasi mana pun. Ia adalah seorang badut yang bekerja mandiri dengan satu-satunya kostum yang ia punya.

Seusai berfoto bersama, Pengunjung yang sadar biasanya memasukan uang ke kantong depan Om Badut. Namun, masi banyak pengunjung yang tidak tahu atau mungkin enggan memberikan uang tersebut. Mereka berpikir Om Badut adalah hiburan gratis tatkala mereka melintas. Om Badut tak pernah meminta-minta untuk diberikan uang. “Kalo gak dikasih, ya gak apa-apa”, cerita om Badut.

Pendapatan Om Badut berkisar antara Rp 30.000 - Rp 40.000 per hari. Pernah sesekali Om Badut mendapatkan Rp 65.000 ketika Monas benar-benar ramai. Itu pun masi dibilang kecil, mengingat ongkos perjalanan Om Badut dari rumahnya di Bekasi menuju Monas. Belum lagi ia harus merogoj kocek untuk makan bersama Gigih, anaknya yang selalu ikut ia bekerja. Setiap malam minggu, bahkan Om Badut dan Gigih terpaksa menginap di emperan stasiun Gambir demi mengirit ongkos mereka.

Selain Gigih, Om Badut masih mempunyai dua putra. Wisnu (19) yang memilih pindah ke Aceh untuk mencari nafkah, dan Wondan (13) yang sekarang duduk di tingkat 2 SMP Al-Huda. Istri Om Badut adalah seorang ibu rumah tangga. Namun, ia seringkali dimintai tolong untuk mengasuh anak tetangganya.

Gigih mengaku malu jika teman-temannya tahu bahwa Bapaknya adalah seorang Badut di Monas. Pernah ketika Om Badut masih bekerja di Taman Mini Indonesia Indah (tahun 2006), teman-teman Gigih mengejek dirinya “Dasar anak badut, anak badut..!”. Karena itulah, saat ini Ia memilih untuk tidak memberitahu satu pun temannya tentang pekerjaan Bapak di hari Sabtu dan Minggu.

Berbeda dengan pengakuan anaknya, Om Badut tidak malu mengakui bahwa dirinya adalah seorang Badut. “Gak malu, orang nyari duitnya halal kok!”, tutur Om Badut. Om Badut mengaku senang menghibur, terutama anak-anak. “Kaya anak sendiri aja”. Ia tidak mengeluh jenuh, kepanasan, atau pun lelah, meskipun ia harus berjam-jam berdiri mengenakan kostum kelinci yang tebal.

Sungguh mulia hati Om Badut. Ia tetap bermurah hati menghibur warga Jakarta yang ada di Monas, meskipun nasibnya seringkali tak diperhatikan. Ia rela difoto bak model, meski tanpa bayaran. Ia rela berpanas-panasan hanya demi menunggu bocah kecil yang melintas.

Minggu, 03 Juli 2011

cengceremen

Hai blogger! Now, I’m going to tell you about my beloved friends! Cengceremen! Yang kepanjangannya adalah Cecama Anggota Celas Nonreg Manajemen. Susah ya bacanya? Emang alay banget nih nama! Hahahaa But, whatever! I love cengceremen!

Cengceremen adalah sebutan anak-anak kelas S1 Manajemen nonreg angkatan 2009. Yap, kelas di mana gue menuntut ilmu selama 4semester ini. Tadinya kelas gue beranggotakan lebih dari 30 orang, namun seiring berjalannya waktu, satu dan lain hal, sekarang hanya tersisa 25 orang!

Selain belajar di kelas bareng-bareng (ya otomatis itu sih ya), kita juga sering hang-out bareng! Udah sering banget kita pergi bareng-bareng, yang menurut gue kesemuanya memberikan kesan yang unforgettable! Pasti ada aja deh kejadian yg ga bisa gue lupa, hahaha. Hmm,namun sayang sih, gak kesemuanya ikut serta dalam tiap vacation kita. I hope we can go together someday! All cengceremen! Hahaha

Sebelum gue cerita tentang vacation kita, satu hal yang gue suka banget dari cengceremen adalah … eng ing eng.. (*eh jayuz banget deh nad). Kita sering belajar bareng di luar kelas dalam rangka persiapan quiz, UTS, ataupun UAS. Ini yang ngebuat kita kompak dan maju bersama. InsyaAllah. Sampe ada dosen yang memuji kita lhoo.. *pamer dikit. Hahaha. Kalo udah lagi belajar bareng nih, cengceremen pada ngumpul, gue, dhea, ayu, dan beberapa lainnya pasti dengan perasaaan deg-degan karena beberapa jam lagi test dimulai. Tapi, akan selalu ada aja hal yang mencairkan suasana dan ngebuat suasananya jadi riang. Sebut saja Denni, Raymond, dan Rizki. 3 cowo yang paling sering banget ngelawak ketika cengceremen ngumpul. Denni dengan guyonan-guyonan konyolnya, Raymond dengan tampang “no expression” alias flat bertingkah aneh depan kita semua, dan Rizki dengan usahanya untuk ngedeketin Ayu. Hahhaha

Ditambah lagi Tinus, yang hobi joged ala Parto, Faris dan Ageng yang hobi bilang Bahja “Autis”, Anna yang selalu punya cerita tiap datang, dan banyak lainnya. Masing-masing dari kita punya sesuatu yang dijadikan bahan ledekan sama cengceremen. Gue yang emang dari kecil tinggal di priuk dan kebetulan lulusan SMK, dibilang sebagai “preman priuk yang tukang tawuran”. Ampun dah, gue gak sebandel itu. Vifa dengan pipi merah jambunya, Eni dengan kebiasaan perut mulesnya, Bahja dengan hidung pesek dan tingkah anehnya, Anna dengan badan yg gak kecil dan lantang suaranya, serta Nova dengan kebiasaaanya yang gak nyambung ketika pembicaraan. Hahhahaha

Oke, now! Gue akan cerita beberapa kisah dari vacations kita. 5 desember 2010, cengceremen went to Dufan. Sayang, Cuma 8 orang yang ikut dalam agenda “sehari bermain bersama ini”. Kebanyakan dari yang ikut adalah perempuan, Ageng and Denni are the only boys here. Udah aja lah kita jadiin momen ini buat ngeledek mereka sebagai pasangan serasi, alias “maho”. *eits tapi gak sebenernya ko. Ageng normal, dia udah punya pacar. Kalo Denni? Gatau deh gue, sampe sekarang belom keliatan ngegandeng cewe sih.hahah

Kita juga menobatkan tanggal 5 Desmber 2010 sebagai tanggal bersejarah! Yaitu tanggal jadian Denni sama Ageng! Hahahha *peace boys.. :D

Moving on to next vacation. Bandung.. Yeay! Tepatnya tanggal 20 Januari 2011 cengcermen jalan-jalan ke Bandung. Kita telah mempersiapkan jalan-jalan ini dari jauh-jauh hari sampe ngebentuk panitia kecil-kecilan. Rizki, si big boss, yang ngurusin sewa mobil, Vifa yang ngumpulin uang anak-anak dan beliin cemilan, gue sendiri sebagai seksi acara yang ngatur agenda satu hari full.

Jam 7 pagi, gue,rizki,ben,nova,bahja,leny, dan pak supir (gue lupa namanya) berangkat dari kampus menuju rumah Vifa tempat cengceremen lainnya berkumpul. Kita jemput mereka di BKKBN (deket rumah vifa) dan langsung caw to Bandung. Perjalanan yang begitu ceria, saying sekali dilengkapi adegan nyasar yang disebabkan miscommunication. Ternyata eh ternyata, si pak supir mengira kita akan ke ciater, sedangakan tujuan sebenarnya adalah Kawah Putih. Ya jadilah kita dibawa muter-muter Subang. Lengkap lagi ceritanya dengan scene dikejar polisi. Hahah

Jadi ceritanya begini, ada razia di sebuah persimpangan di Subang, and then salah satu polisi ngeberhentiin mobil kita. Tapi si supir malah jalan terusss. Sang polisi dengan sigap ngambil motornya dan ngejar mobil kita. Gue dan teman-teman otomatis shock. Jadilah kita tuh supuir ditilang. Tapi Alhamdulilah, Thanks God, gue dan teman-teman masih baik-baik aja sampe sekarang. Hahaha

Waktu berlalu. Jam demi jam, finally sampailah kita di Kawah Putih - Bandung!


Sebenernya masih banyak lagi cerita tentang cengceremen dan semua agendanya. Waktu kita ke Ragunan, malem tahun baruan, ke taman safari, sampe karokean menggila bareng abis UAS. Tapi, lain kali lagi y ague certain tentang itu. Yang pasti adalah gue suka menjadi bagian dari cengceremen dan beruntung mengalami banyak hal dengan mereka. Love you guys! :p



who am i?



Setelah lama nge-blog, akhirnya gue berpikir, pasti pertama kali liat blog gue orang langsung bosen karena isinya tulisan semua. Ditambah lagi, tanpa tahu siapa gue dan bagaimana kepribadian gue. So, I think I need to share it to you, about me and my world.. jeng jeng jeng….

Gue Nadia Nurfadilah, kuliah Manajemen, fakultas Ekonomi di UNJ. Gue angkatan 2009. Sekarang gue lg liburan dalam masa transisi menuju semester 5. Mungkin banyak yang bertanya, kenapa banyak tulisan gue tentang bundaran HI? Yap, gue emang suka banget sama itu Bundaran. Gausah tanya kenapa, because sometimes you don’t need to explain why you like something. Hahhaha..

Oya, selain kesukaan gue akan bundaran itu, gue juga punya project tulisan mengenai Landmark Jakarta, dan objek yang gue pilih adalah (yang lo uda pasti tau jawabannya) Bundaran HI. Jadi, gue sering kesana untuk observasi dan ngumpulin data buat tulisan gue. Rencananya tulisan itu akan dibukukan bersama tulisan temen-temen gue lainnya di Lembaga Kajian Mahasiswa (organisasi yang gue ikutin). So, doain aja project ini lancer dan bukunya bisa terbit di pasaran. Amin.... :))

Then, selain project Landmark, gue juga nulis cerpen dengan judul BUndaran HI. Eh lebih ke cerita bersambung gitu sih. Ada 6 part yang kesemuanya bisa kalian liat di blog ini, cek sendiri nanti ya! :D

Gue bukan orang yang jago nulis, tapi gue mencoba membiasakan diri gue aja untuk menulis. Hal ini terjadi sejak gue mendengar jargon “script manent, verba volent”. Tulisan akan permanen, ucapan akan musnah. WOW! Ini jargon luar biasa menurut gue (gatau sih buat kalian, iya apa gak.haha). Jargon ini gue denger dari seorang kakak senior yang jago banget menulis. Sampe sekarang, beliau masih suka memotivasi gue untuk menulis. Thanks ka! Oya, selamat bentar lagi lulus. Yeay!

Di blog ini gue nge-share banyak tulisan yang gue sendiri bingung mengklasifikasikan itu ke bentuk apa. Yang jelas, itu luncuran kata-kata yang mengalir begitu saja di benak gue. Kalo dibilang pantun, gue smaa sekali gak memperhatikan rima. Dibilang puisi, juga ko kayanya terlalu sederhana. Dibilang syair apalagi, bukan deh ah kayanya. Apa pun itu, I love to write it! Silahkan menikmati goresan-goresan kata itu di blog ini. Feel free to comment! :D

Minggu, 22 Mei 2011

Lebih dari sekadar “Patung Selamat Datang”

Udara pagi segar menyapa. Tepat jam 6, dari halte busway UNJ, sudah terlihat beberapa gerombolan bersepeda menuju tengah jakarta. Anak-anak muda hingga orang tua dengan semangat pagi menggoes sepedanya. Perjalanan berlanjut.

Tepat di halte busway Bundaran HI, terlihat ratusan orang sudah memadati sekeliling bundaran HI. Banyak anak muda berada di sekeliling kolam. Beberapa sibuk berpose, beberapa lagi hanya duduk santai, bercengkrama dengan teman-teman sambil menikmati udara pagi. Ratusan sepeda memadati jalan Sudirman. Begitu ramai. Ditambah lagi suara dua orang polisi lalu lintas, pria dan wanita, yang dengan lantang menyerukan aba-abanya agar para penikmat car free day tidak memasuki jalur busway. “agar keluar dari jalur busway, karena busway tetap beroperasi”.

Bundaran HI, tempat yang selalu ramai di tiap hari minggunya. Entah karena acara car free day atau pun sekadar diramaikan komunitas sepeda yang sengaja berkumpul di sana. Yang jelas, Bundaran ini tak akan sepi di hari Minggu. Selain orang yang bersepeda, banyak juga yang sengaja jogging di sini. Semakin lengkap dengan hadirnya orang-orang dengan tali bertuliskan Canon atau Nikon menggantung di lehernya yang siap mengabadikan moment menarik. “Dengan motret, waktu seakan abadi”, ujar seorang fotografer muda yang penulis temui.

Car free day hanya salah satu contoh kegiatan yang meramaikan bundaran HI di hari Minggu. Masih banyak lagi event-event besar yang mengambil lokasi di bundaran satu ini. Sebut saja acara Sepeda Ria yang diadakan salah satu TV swasta, Gerakan Seribu Langkah, serta berbagai aksi damai dan gerakan-gerakan kepemudaan.

Acara TV pun turut mengambil latar Bundaran HI. Beberapa FTV, sinetron, acara hiburan, bahkan acara berita yang tayang di stasiun tv berita Indonesia. Berbagai contoh di atas cukup menjelaskan betapa besar animo masyarakat terhadap bundaran yang berlandaskan kolam air mancur yang semakin menambah daya tariknya.

Orang-orang dari berbagai penjuru Jakarta bersedia meluangkan waktunya ke sini. “Ini anak seneng liat air mancur”, aku pak Prapto yang jauh-jauh dari Tanjung Duren mengunjungi Bundaran HI bersama anak dan istrinya. “Setiap hari Minggu saya ke sini sama keluarga”, cerita Mas Yuda yang bersepeda dari Johar Baru. Ada juga Mas Yayan dan Mas Yohanes dari Rawamangun yang turut serta dalam Car Free Day tanggal 13 Februari 2011. “Kesini diajak Yohanes”, cerita Mas Yayan.

Mas Yohanes terlihat sedang melakukan exercises di pinggir kolam untuk merenggangkan otot-otot tubuhnya. Mas Yohanes yang bekerja di bidang MKL sengaja mengunjungi Bundaran HI demi menemui seorang gadis cemceman-nya. “Dia udah jauh-jauh ke sini, tuh cewenya kabur-kabur mulu. Seneng foto dia.”, cerita Mas Yayan seraya menunjuk seorang gadis di kejauhan. “Cerita apaan lu? Wah..”, Mas Yohanes mendekat. Lalu tawa pun tergelak di antara kami.

Selain hari Minggu, bundaran HI bukannya tidak ramai di hari biasa. Bundaran ini tetap padat di hari kerja (weekdays). Bukan dengan sepeda dan orang ber-jogging ria, melainkan dengan berbagai macam kendaraan. Padat, bahkan merayap pada rush hours. Kendaraan umum, sepeda motor, dan berbagai merek mobil pribadi terlihat memadati bundaran ini. Apalagi setelah hujan mengguyur Jakarta, bisa dipastikan lalu lintas sekitar bundaran HI akan stuck. “Jum’at sore sama habis hujan, itu bisa sampe stuck”, cerita Pak Sunaryo, Danton I di Pos Pol Thamrin.

Tak hanya itu, demo yang hampir setiap hari menghiasi bundaran HI pun menambah padatnya jantung kota ini. “Di sini tiap hari demo Neng, tambah macet.”, cerita Pak Herman. Pria berusia 54 tahun ini setia mengatur formasi air mancur kolam Bundaran HI dari sebuah ruang kecil di bawah tanah. Dan ia pun tak keberatan membersihkan sekeliling kolam sehabis demo berlangsung.

Kemacetan yang luar biasa di Bundaran ini memang membuat orang-orang kapok melintas. Banyak waktu yang akan dihabiskan di jalan. “waduh, kalo hari biasa sih gak mau lewat sini”, keluh pak Prapto yang bekerja di daerah Kelapa Gading.

Mungkin banyak juga orang seperti Pak Prapto yang sengaja menghindari jalur ini di hari kerja. Tapi lebih banyak lagi yang harus tetap bersabar melintasi bundaran ini meski macet menghadang. “memang setiap hari lewat sini”, ujar Mas Yayan yang bekerja di gedung UOB, yang letaknya memang tak jauh dari Bundaran HI.

Sama halnya dengan Mas Yayan, Nova, seorang mahasiswi semester empat pun bercerita bahwa setiap harinya ia memang harus melewati Bundaran HI. Ketika ditanya mengapa memilih lewat bundaran HI, ia berkata “memang jalur busway nya lewat sini.” Simple memang alasannya. Namun ia menambahkan, “seneng juga liat air mancurnya, apalagi kalo malem, banyak lampu gemerlapan”.

Pemandangan macet di Bundaran HI memang tak bisa dipungkiri, namun keindahannya pun tak dapat kita ingkari. Pengakuan Nova menjadi salah satu buktinya. Ditambah lagi cerita seorang teman yang berdomisili di Bogor. Ia begitu takjub ketika malam hari melintasi Bundaran HI “waaaaaah…”, ucapnya ketika melihat lampu-lampu gemerlapan di sana.

Lampu-lampu, air mancur, gedung-gedung tinggi menjulang, kemacetan, plus polisi berseragam hijau menyala yang sibuk mengatur lalu lintas adalah objek yang biasa terpampang di sekeliling bundaran HI ini. Rupanya, hal ini begitu menarik bagi anak-anak muda yang suka memotret dengan DSLR favoritnya.

Hampir setiap malam minggu, segerombolan anak muda datang ke bundaran HI untuk hunting foto. Mereka sengaja datang untuk memotret patung, polisi, kendaraan, dan berbagai objek lainnya yang bagi mereka menarik. Salah satu dari mereka adalah Allan. “Bundaran HI itu kebanggaan Jakarta”, ucap mahasiswa dari salah satu universitas di Bandung ini. Allan sengaja memajang hasil jepretan bundaran HI nya di Galeri Foto virtual miliknya. Foto yang diambil dengan Nikon D40x itu menunjukan betapa megahnya patung yang menjulang di atas kolam bundaran itu. Foto itu ia beri nama “Welcome Jakarta”.

Judul foto Allan mengingatkan kita pada sejarah awal didirikannya bundaran Hotel Indonesia. Bundaran yang dibangun seiring dengan berdirinya Hotel pertama di Indonesia ini memiliki maksud untuk menyambut para Atlet Asian Games tahun 1962.

Sejarah Bundaran HI

Bundaran HI didirikan pada tanggal 5 Agustus 1962 yang mana latar belakang pendiriannya adalah Asian Games ke-4 pada tahun tersebut di mana Indonesia menjadi tuan rumahnya.

Dalam rangka menyambut Asian Games yang keempat, pemerintah Indonesia mendirikan beberapa bangunan yang menunjukan mercusuarnya. Mulai dari Gelora Bung Karno sebagai lokasi pertandingan, Rumah Sakit Persahabatan, Hotel Indonesia untuk menginap para atlet, sekaligus patung selamat datang untuk menyambut para atlet tersebut. Bundaran HI ini lah yang dimaksud.

Bundaran HI terletak di pertemuan garis axis utara dan selatan Jakarta, yang mengikat kawasan Tanjung Priuk di sebelah utara dan kawasan Kebayoran di sebelah selatan. Bundaran HI merupakan pertemuan antara jalan-jalan protokol, atau beberapa orang menyebutnya Jalur Naga. Ada jalan Imam Bonjol, M.H. Thamrin, Jend. Sudirman, Sutan Shahrir, dan Kebon Kacang.

Bundaran yang berbentuk lingkaran piring raksasa ini, memiliki diameter 100 m, dan berlandaskan air kolam, yang memiliki lima formasi air mancur. Konon, lima formasi ini menunjukan tanda memberi salam. Salam selamat pagi, selamat siang, selamat petang, selamat malam, dan selamat berhari Minggu. Jumlahnya yang lima, juga menunjukan dasar Negara kita, yaitu Pancasila, yang terdiri dari lima sila.

Di puncak Bundaran HI, terdapat sepasang patung remaja, perempuan dan laki-laki setinggi tujuh meter, yang ditopang oleh pilar beton setinggi 30 m. Keduanya melambaikan tangannya yang sebelah kanan. Tangan kiri patung perempuan memegang seikat bunga. Patung-patung ini seakan mengucapkan salam. “seperti bilang dadah..”, cerita Pak Prapto ketika ditanya mengenai sejarah Bundaran HI. Pak Prapto yang bekerja di daerah Kelapa Gading, sengaja mengunjungi Bundaran HI setiap minggunya. Tak hanya menikmati apa yang disuguhkan di sana, ternyata Ia pun cukup banyak tahu mengenai sejarahnya.

Patung tersebut memang seakan memberikan kedalaman makna dari maksud pendiriannya. Sepasang patung remaja melambaikan tangan lambaian selamat datang menyambut semua kontingen Asian Games yang datang ke Indonesia. Sampai sekarang, sepasang patung tersebut tetap melambaikan tangan. Mengucapkan selamat datang. Namun, kepada siapa kah? Para pendemo? Para penikmat car free day? Atau para antek kapitalisme?


Bundaran HI kini

Bundaran HI terlihat begitu modern karena dikelilingi gedung-gedung pencakar langit. Sungguh berusaha menunjukan economic growth dari Indonesia, kota Jakarta khususnya. Sekeliling Bundaran menjadi pusat bisnisnya kota Megapolitan ini. Terdapat menara BCA, menara Mandiri dan Deutsche Bank di sana yang mewakili sektor perbankan. Mandarin Hotel, HYATT, Hotel Indonesia Kempinski, Nikko Hotel menjadi ambassador hotel mewah di Indonesia. Kedutaan, Gedung UOB, dan lain sebagainya semakin menambah peran penting lokasi yang satu ini.

Tak asing pula kita mendengar beberapa perusahaan property yang menjadikan Bundaran HI senjatanya. “Lokasi perumahan kami, hanya lima belas menit dari jantung kota”, tergambar lah Bundaran HI. Beberapa scene di FTV dan Sinetron yang berkisah akan seorang dari kampung yang pindah ke Jakarta pun, selalu memunculkan Bundaran HI untuk menarasikan kota Jakarta. Bahkan salah satu tayangan adzan di TV Swasta menampilkan seorang pria yang sedang memotret di Bundaran HI.

Bundaran HI kini seakan menjadi jantungnya Ibu Kota. “Bundaran HI ini kan pusatnya kota. Jadi kita pengen tahu Bundaran HI kalo hari minggu seperti apa, kalo hari biasa seperti apa”, ungkap Pak Suprapto yang tak bisa setiap hari melintasi bundaran ini.
Sepertinya ungkapan Bundaran HI adalah Jantung Kota ini jugalah yang menjadi alasan para demonstran berkumpul di bundaran untuk menyuarakan aspirasinya. Puluhan pendemo hampir setiap hari terlihat di pinggiran Bundaran HI. Alasan mereka berdemo beragam. Menuntut janji presiden, janji pengusaha untuk upah yang layak, mengecam pornografi dan lain sebagainya. Namun, tempat yang mereka pilih sama, yaitu Bundaran HI.

Bundaran HI sendiri tidak dikelilingi kantor-kantor Pemerintahan. Namun, bagi mereka, Bundaran HI adalah tempat yang tepat untuk menyuarakan aspirasinya. Ruang terbuka, yang dilintasi ratusan orang setiap harinya, tentu akan tepat untuk menarik perhatian di sana. Akan banyak mata melihat, reporter meliput, serta pejabat pemerintahan yang mendengar. “Kalo di sini kan banyak yang lihat”, ucap Pak Sunaryo, Danton I pos polisi Thamrin, yang biasa mengawasi demo di sini.

“Kalo di sini kan ruang terbuka, kalo di Monas mah banyak pagar-pagarnya, siapa juga yang akan lihat”, ujar Mas Yayan yang ditanyai perihal pendapatnya mengenai para demonstran di Bundaran HI.

Selain aksi penuntutan, aksi-aksi Damai seperti Kampanye anti seks bebas pun diselenggarakan di Bundaran HI. Aksi yang menyerukan agar generasi muda dan masyarakat secara umum menjauhi free sex ini diatur sedemikian rupa agar lancar dan tidak menyebabkan kemacetan.

Bundaran HI seperti menjadi wadah spesial untuk menyuarakan aspirasi masyarakat. Apa pun aspirasinya. Penuntutan, himbauan, hingga seruan putus cinta. Seorang pria bule bernama James Mathew berenang mengelilingi kolam bundaran HI sambil menyerukan nama seorang gadis. “Eni, Eni, Eni”. Hal ini terjadi bertepatan dengan aksi massa memprotes setahun Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 20 Oktober 2010.

Tempat berkumpul para demonstran rupanya juga menjadi tempat berkumpul para fotografer. Bila para demonstran memilih di sekeliling kolam, para fotografer memilih lebih menepi ke jalan Sutan Syahrir. Tepat di samping pos Polisi Thamrin, terdapat sebuah warung kopi dan jejeran para penjual makanan. Bukan Allan dan teman-teman fotografer muda nya yang ada di sana, melainkan para fotografer senior.

Di siang hari yang cukup terik menjelang sholat Jum’at, Lebih dari sepuluh orang-orang membawa tas besar berkumpul di sana. Kebanyakan dari mereka adalah laki-laki. Hanya terlihat dua perempuan di sana sedang mengutak-atik laptopnya seraya berteduh di bawah pohon rindang. Pria-pria di sana ada yang sibuk menikmati hisapan rokoknya, berbincang dengan seorang pria lainnya, ada juga yang berkumpul tertawa bersama dengan pisang goreng di tangan kanannya.

Perkumpulan orang-orang bertas besar itu rupanya adalah wartawan foto berbagai media. Media cetak dan online. Kamera DSLR dan berbagai aksesorinya lah yang ternyata menjejali tas para fotografer tersebut. Perkumpulan para wartawan foto ini dimulai tahun 2009. Pada masa itu, ada banyak warung bermunculan di jalan Sutan Syahrir. Nasi Padang, Soto ayam, minuman, dan lain sebagainya. Namun sekarang, hanya tersisa satu warung kopi ditemani beberapa penjual makanan dengan gerobak. “Kalo dulu, di sini banyak warungnya. Sekarang tinggal satu”, cerita Pak Hartono, wartawan foto bidang Ekonomi.

Pak Hartono adalah fotografer dari media IndoPos yang sengaja beristirahat di warung kopi seberang Bundaran HI. Ia memilih tempat ini karena lokasinya yang berada di tengah kota. Sehingga akses untuk kemana saja menjadi lebih mudah. Mengingat, profesinya adalah seorang wartawan. “Kalo sini kan tengah, jadi kita kalo ada panggilan, gampang aksesnya”, ucap Pak Hartono menceritakan kisah dirinya dan teman-teman fotografer seperjuangan.

Rupanya tempat berkumpul ini juga dilengkapi fasilitas Wi-fi yang didapat dari kantor subsektor pos polisi Thamrin yang memang tepat berada di sebelahnya. Para Wartawan foto yang bekerja untuk media online menjadi lebih mudah untuk mendapatkan akses internet. Pekerjaanya untuk meng-upload berita pun tetap berjalan sekalipun ia sedang bersantai di warung kopi.

Kisah perkumpulan para wartawan foto ini mungkin hanya menjadi seberkas kecil kisah berlatar Bundaran HI. Tentu, banyak lagi kisah-kisah lain yang terjadi di bundaran HI ini. Setiap detik, menit, jam, dan harinya, Bundaran HI menghadirkan cerita. Terlebih bagi Pak Herman dan Rekannya, yang memang bertugas men-secure bundaran tersebut. Pak Herman bahkan bercerita tentang gadis misterius yang suka secara tiba-tiba muncul di sekitar kolam. Gadis itu muncul di antara jam 00.00 – 05.00 a.m. Gadis itu muncul, mengejutkan manusia yang melihatnya, lalu dengan seketika menghilang.

“Pernah tiba-tiba muncul dari arah hotel menyebrang menuju kolam, terus tahu-tahu menghilang”, cerita Pak Herman yang seketika membuat penulis merinding saat mendengarnya.

Kemacetan, demo dan aksi, car free day, perkumpulan fotografer, hingga cerita hantu, semua terkisah dari bundaran yang terletak di Jantung Kota Megapolitan ini. Bundaran yang pada awalnya didirikan sebagai patung penyambut para atlet Asian Games, kini telah bermetamorfosa menjadi ikon ibukota dan memiliki makna lebih dari sekadar patung selamat datang.

Lokasinya yang berada tepat di tengah Jakarta, menjadikannya titik yang selalu dipadati kendaraan. Keberadaannya di ruang terbuka, menjadi alasan terpilihnya ia sebagai tempat berdemo yang strategis. Landasan kolam, air mancur, deretan gedung pencakar langit serta lampu-lampu yang berpendar tak lelah membuatnya gemerlap di malam hari. Dulu, sekarang, hingga nanti, Bundaran HI akan tetap menjadi saksi bisu yang merekam berbagai kisah yang tengah terjadi di kota Jakarta.